Senin, 12 Desember 2016

renungan pagi ini...

“jika kamu bisa menerima, akan lebih banyak tercipta pelajaran daripada penyesalan.”


-ranny-

Sabtu, 10 September 2016

Seorang pria pernah berkata kepadaku seperti ini, "saat orang lain sibuk mengumpulkan emas, kamu malah sibuk mengumpulkan batu, kamu itu buta Ran..."

Selasa, 05 Juli 2016

ini resah...

Jadi, saat ini saya berada dititik dimana yang namanya bahagia didepan mata namun sulit diraih. saya selalu merasa sendiri sementara berada ditengah keluarga saya maupun saat dengan dia. saya merasa sulit untuk beradaptasi dengan lingkungan apapun itu sebutan lainnya. keraguan saya tidak akan tertuang jika saya tidak segusar ini. hari rabu yang membahagiakan ini tepat dengan perayaan Idul Fitri 1437H saya terpaku didepan layar desktop kantor lalu tangan memaku pada keyboard untuk satu persatu menuliskan keluh kesah. saya memutuskan untuk tetap bekerja menggantikan teman-teman saya yang sedang berhari raya.

Saya tahu bahwa hidup tetap berjalan meskipun saya mengeluarkan airmata diam-diam atau saat yang berbeda saat gelak tawa membanjiri perasaan. saya mengerti bahwa menulis bukanlah jalan satu-satunya membunuh rasa sakit karena kecewa terhadap masalalu, karena itu saya memustuskan untuk berhenti menulis. melanjutkan hidup lebih baik daripada mengisi hari esok untuk masalalu. saya hidup atas masalalu tapi bukan untuk masalalu. saya berusaha untuk kuat dengan segala kebaikan yang tersisa dalam diri. bahwa hidup seperti Yin dan Yang. disisi baik seseorang selalu terselip sifat yang tidak baik dan sama halnya dengan sisi buruk dimana selalu ada celah untuk menyimpan kebaikan. 

hanya saya yang salah untuk setiap kejadian dalam hidup saya. saya tidak ingin membagi kesalahan atau mencoba untuk menyalahkan mereka. mereka sungguh baik sudah mampir dalam kehidupan saya untuk memberi pelajaran. saya tahu ikhlas itu tidak mudah tapi saya mencoba untuk memulai dari memaafkan diri saya sendiri. berdamailah dengan diri sendiri dan kamu akan menjadi pemenang dalam setiap ego. 

teruntuk mama dan papa, terimakasih untuk segala hal hingga hari ini. i'm just fucking daughter who can't respect with our relation. saya tetap bersyukur meskipun hubungan kita tidak sebaik semulus sampulnya. ada rasa enggan dan sungkan saat bertemu denganmu. kejadian masalalu masih berlum terlepas meskipun saya sudah bersikap semanis sebisa saya. 

Tuhan tahu bagaimana semua ini akan berjalan, sekuat apa saya mampu bertahan, sebanyak apa airmata yang akan jatuh dihari-hari berikutnya, berapa banyak lengkungan senyum yang akan tercipta dari bibir ini dan juga sebanyak apa saya mengucap syukur dengan hidup. 

Tuhan ajarkan saya bagaimana setelah saya ikhlas, saya mampu bersyukur dengan orang-orang yang saya punya. sehingga rasa resah ini kan hilang dengan sendirinya. dikuatkan hati saya agar tidak mudah mengeluh dengan sikap orang lian. Tuhan begitu baik dengan saya, dengan kami...

Rabu, 17 September 2014

Kepada Pria Kekasihku di Masa Depan teruntuk Pelitaku, Wanita Tercantik Sepanjang Waktu...

      Kadang mindset tidak seindah kenyataannya... Emmm... Bukan kadang, tapi memang nyatanya seperti itu. Apalagi bagi orang-orang biasa pada umumnya. "Jika kamu bermimpi sesuatu, bermimpilah tidak ada yang akan melarang tapi berhentilah jika selamanya hanya tersimpan dalam ingatanmu..." Dan aku berusaha sebisaku untuk maju entah bagaimana caranya, entah berapa lama karena Tuhan selalu bersamaku setiap waktu, bukan dibelakang atau didepan namun disampingku. "Belajarlah memegang Komitmen" kalimat itu terus berbunyi berulang-ulang didalam fikiran. Bagaimana tidak, jika sesuatu yang ada didalam fikiran lalu mencuat melalui bibir bertumbuh menjadi setitik harapan yang nyata namun dipaksa untuk berakhir karena keadaan. Begitu munafik jika aku mati rasa terhadap apa yang menyakiti. "Hey... aku bukan wanita, aku gadis remaja yang terperangkap dalam gumaman orang dewasa." Mereka berteriak ditelingaku, semakin keras semakin keras hingga pening lalu terhenti beberapa saat sunyi tidak ada suara... pertanda aku mati, aku terhenti.

      Saat ini terhenti didepan pc dan tangan mematung di keyboard. Aku marah, sejujurnya begitu kecewa dengan respon orang disekelilingku yang aku sendiri tidak tau harus apa. Begitu sulit meluapkan segalanya, aku takut... begitu takut ketika orang lain melihat. Mungkin beberapa dari mereka akan berusaha diam atau tidak ingin membuatku marah. Nyatanya aku masih begitu rapuh, jauh dari apa yang aku sebutkan barusan. Rapuh hingga perkataan orang lain bisa membuatku menangis sendiri, bisa membuatku berfikir berpuluh kali, bisa membuatku terjaga berhari-hari...

      Jika semuanya bisa menjadi lebih mudah saat aku menulis, bagaimana jika aku bisu? membiarkan tangan dan fikiranku berbicara lewat tulisan ini. Menyuarakan betapa sakitnya aku disini terpapar airmata, mengikis polesan makeup yang setiap hari menjadi topeng cantik. perlahan menjauh dari manusia jahat dan mengurung diri akibat mereka, Bodoh? Iya... biarkan aku hidup beberapa detik dengan bodohku ini. Nyatanya aku membiarkan mereka mengacak-acak bagian terpenting hidupku..... Masa Depan...

      Betapa emosi terselubung terpancar dari setiap huruf yang membentuk kalimat-kalimat real yang tidak malu menunjukkan diriku sebagai wanita lemah yang berusaha kuat ditempat antah berantah ini. Bahkan aku telah mempersiapkan berbagai topeng manis dan lucu untuk aku pelihatkan keberbagai manusia dikota ini. Ya... Semua manusia mempunyai topeng sebelum akhirnya bertekuk lutut membuka topeng dihadapan Tuhan lalu mengikat janji dengan manusia lainnya.


Selamat tinggal rasa sakit... Selamat jalan kenangan, terimakasih telah tinggal dalam tulisanku, bersemayam tanpa ada yang tau mengapa... Jangan datang untuk menemuiku dalam mimpi, mungkin saja aku tidak mengenalimu... Jangan sentuh aku dalam bayangan karena kenangan tidak bisa kembali meski aku memintamu lagi...

Satu, dua, tiga langkah....
Menyusuri lorong hendak menjumpai sosok wanita yang begitu aku rindukan belaiannya. Jangan pergi... Kamu belum melihatku tersenyum lebar melempar toga ke langit... Kamu belum melihat aku pulang larut malam akibat tugaas negara yang aku hendaki... Kamu belum melihatku berjuang menunggu pria baik dimasa depanku yang akan aku sebut teman... Teman hidup...
Jangan pergi....
Jangan pergi....
lekaslah kembali dalam sadarmu, fasihkan bicaramu sama seperti saat aku menangis malam itu karena sakit....


"Bunda Maria, terpujilah namamu dalam hatiku, ambilah rasa sakit putriku berikan untukku dilain waktu agar dia bisa merawatku dengan baik disaat nanti. Berikan rasa kuat dan berikan dia hati sebaik Malaikatmu, lindungi putriku dalam sakit dan sembuhnya..." teringat doamu yang sama disetiap waktu... 

kali ini aku yang meminta pada Tuhan... "Tuhan, aku yakin perkaramu nyata terhadap umatMu, kembalikan wanita yang paling aku cinta berikan dia rasa pelukan hangat yang selalu Kau berikan kepadaku saat aku merasakan sakit. Jadikan dia selalu pelita dalam doaku padaMu. Bukan untuk orang lain, aku meminta padaMu untuk satu yang paling kucinta."

Kamis, 10 Juli 2014

Kaulah Segalanya...

Mungkin hanya Tuhan yang tahu segalanya
Apa yang ku inginkan di saat-saat ini
Kau takkan percaya kau selalu di hati
Haruskah ku menangis tuk mengatakan yang sesungguhnya
Kaulah segalanya untukku
Kaulah curahan hati ini
Tak mungkin ku melupakanmu
Tiada lagi yang ku harap, hanya kau seorang
Kau takkan percaya kau selalu di hati
Haruskah ku menangis tuk mengatakan yang sesungguhnya
Kaulah segalanya untukku
Kaulah curahan hati ini
Tak mungkin ku melupakanmu
Tiada lagi yang ku harap, hanya kau seorang
Kaulah segalanya untukku
Kaulah curahan hati ini
Tak mungkin ku melupakanmu
Tiada lagi yang ku harap, tiada lagi yang ku harap
Tiada lagi yang ku harap, hanya kau seorang
Kaulah segalanya untukku...
Kaulah curahan hati ini... Jika satu dua atau tiga yang bisa aku pinta, tolong hanya kamu. jangan yang lain...

Jumat, 27 Juni 2014

Hitam itu...

Seperti anak jerapah yang tertinggal kawanannya. Bagaimana bisa dengan tubuh yang besar ia malah tertinggal, lalu apakah kawanan lain tidak serta merta mencarinya? Atau mungkin...

"Sebagian besar orang mengatakan bahwa dirinya itu berbeda dengan orang lain, ya... ! mungkin berbeda mungkin juga hanya berpura-pura menjadi beda." Saat ini aku menulis dengan tangan gemetar merasakan seperti hypotermia di kota Jogja. "Lalu orang yang berbeda itu sudah bisa menikmati takdir, takdir yang hangat bisa diperhatikan orang lain secara gamblang dan sengsara ketika privasinya terenggut sedikit demi sedikit. Namun berbeda bagi mereka para munafik, mereka harus bersusah payah membuat mini opera yang bisa membuat perhatian orang lain itu mengarah padanya. Meskipun sebenarnya bukan itu yang mereka inginkan. Kamu, kamu berbeda... kamu tidak bisa aku kategorikan kedalam 2 jenis tadi. Kamu... Bukan manusia bahkan, bagiku. Mungkin hanya kulit luarmu saja namun tidak untuk hati dan fikiranmu yang meracau setiap pandangan dunia padamu. Kadang aku mencintai sosokmu wahai gelap, kadang aku berlari sekencang mungkin meninggalkanmu, dan setelah aku berlari jauh, ternyata aku hanya berlari ditempat. Kamu, adalah 4 huruf yang berorientasi menjadi seseorang yang hendak ku kenal, yang hendak menikam dalam gelap yang kamu kenalkan padaku sebagai penerang. Dan ketika hujan, aku tau... Kamu... adalah putih yg tersembunyi dan..." tubuhku menggigil menunggu sang hitam datang...